Teungku Fakinah Sang Pejuang Aceh

 ULAMA WANITA DAN PEJUANG PERANG ACEH Beliau berasal dari keturunan ulama dan bangsawan Aceh. Ayahnya Datu Muhammad yang dikenal dengan Teungku Asahan adalah seorang bangsawan Aceh. Adapun ibunya Teungku Fatimah ialah anak dari Ulama dan Pimpinan Dayah Lam Pucok yaitu Teungku Muhammad Saad yang dikenal dengan Teungku Chik Lam Pucok atau Teungku Chik Di Lam Krak yang merupakan guru dari pahlawan besar Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman. Karena Teungku Chik Di Tiro sebelum berangkat ke Mekkah pernah dua tahun memperdalam keilmuannya kepada Teungku Chik Lam Krak yang tidak lain kakek dari Teungku Fakinah dari jalur ibunya. Teungku Fakinah diperkirakan lahir di tahun 1856 di Desa Lam Diran Gampong Lambeunot Kemukiman Lam Krak Aceh Besar. Melihat kepada tahun kelahiran Teungku Fakinah, beliau lebih muda dari para ulama lainnya seperti Teungku Chik Di Tiro, Teungku Chik Pantee Kulu dan Teungku Chik Pantee Geulima. Mengawali jejak keilmuannya, Teungku Fakinah belajar langsung kepada kedu...

Perjuangan Aceh Melawan Belanda


 

Pernyataan

  • Ketika perang kolonial Belanda di Aceh hampir memasuki seperempat abad, Letnan Kolonel infantri purnawirawan G.B. Hooijer yang pernah bertugas di Aceh menulis dalam ikhtisar umum bukunya De Krijgsgeschiedenis van Nederlansch IndiĆ« van 1811 tot 1894, jilid III (terakhir, setebal 480 halaman), tahun 1895, pada halaman 5 sebagai berikut:
Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya. Oleh sebab itu perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.[1]
  • Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini, kita mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain.[2]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Sukarno yang ingkar terhadap bangsa Aceh

Asal Mula Keluarga Sayed Mahmud Mahyiddin